Ruang sempit 2x3, 23 Oktober 2018
Tentang menangis
Aku punya satu prinsip yang dipegang teguh sejak
kecil. Tak tahu kapan dimulainya, mungkin ketika pertama kali duduk di bangku sekolah dasar.
Prinsip pertama yang aku definisikan dalam kata-kata dalam usia yang masih
sangat muda. Prinsip itu adalah “Jangan pernah menangis di depan umum”. Entah
bagaimana aku bisa membuat prinsip itu, yang jelas bagiku menangis di depan
banyak orang membuatmu terlihat lemah. Begitulah, mungkin karena prinsip yang
sudah kupegang bertahun-tahun ini membuatku kadang menjadi kurang peka. Aku tak
menangis saat banyak temanku menangis saat perpisahan SD, dan aku malah heran
mengapa mereka menangis, maafkan aku yang masih lugu itu J Kuingat satu masa yang kalau tidak salah saat
kelas tiga, salah seorang teman tidak sengaja melempar sesuatu dan mengenai
daguku hingga berdarah, dan aku diam saja meski sakit kurasa.saat guru
mengobati dan teman-teman yang lain melihat. Aku tak menangis saat nenekku
pergi untuk selamanya meski aku sangat sedih kala itu. Aku tak tau harus
melakukan apa saat seorang teman bercerita sambal menangis tentang masalahnya. Aku
tak bisa seperti orang-orang yang dapat menunjukkan sedikit empati dengan
memeluk dan ikut menagis saat temannya sedih. Maafkan aku teman J Tapi ternyata aku tak bisa
menolak takdirku sebagai perempuan yang punya rasa. Beberapa kali aku pernah
menangis di depan orang-orang. Aku
menangis saat seseorang yang sangat dekat dengaku pergi secara tiba-tiba. Tapi
aku masih ingat prinsipku saat itu, sehingga aku masih bisa menguasai diriku.
Namun dua bulan setelahnya aku menagis sejadi-jadinya di pusaranya, aku
menumpahkan semua rasa yang selama ini kutahan. Aku lelah untuk berpura-pura
kuat dan tegar. Kini kurasa itu normal saja untuk anak remaja yang baru
mengenal cinta dan harus kehilangan dengan cara yang tak terduga. Beberapa
tahun setelahnya, aku pernah menelepon seorang teman tengah malam sambil
sedikit tersedu karena seorang pria yang aku pikir adalah segalanya
meninggalkanku tanpa alasan. Saat itu kubiarkan diriku menangis tapi setelahnya
aku tak akan menangis lagi karena dia memang tak pantas ditangisi. Setahun setelahnya
aku juga pernah rasanya ingin menangis tapi tak bias karena seseorang yang
dengan bodohnya kubiarkan meninggalkan luka. Aku juga bisa menangis karena
membaca sebuah cerita sedih atau menonton film drama meski tentu tetap tak
ingin dilihat orang. Itulah ajaibnya hati, meski kau berkata aku kuat dan tak
boleh menangis, kadang sewaktu-waktu dia bisa berkhianat padamu. Tapi tak
apa-apa, karena itu tandanya kau masih manusia.:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar