Selasa, 23 Oktober 2018

Tentang Menangis


Ruang sempit 2x3, 23 Oktober 2018

Tentang menangis

Aku punya satu prinsip yang dipegang teguh sejak kecil. Tak tahu kapan dimulainya, mungkin ketika pertama kali duduk di bangku sekolah dasar. Prinsip pertama yang aku definisikan dalam kata-kata dalam usia yang masih sangat muda. Prinsip itu adalah “Jangan pernah menangis di depan umum”. Entah bagaimana aku bisa membuat prinsip itu, yang jelas bagiku menangis di depan banyak orang membuatmu terlihat lemah. Begitulah, mungkin karena prinsip yang sudah kupegang bertahun-tahun ini membuatku kadang menjadi kurang peka. Aku tak menangis saat banyak temanku menangis saat perpisahan SD, dan aku malah heran mengapa mereka menangis, maafkan aku yang masih lugu itu J Kuingat satu masa yang kalau tidak salah saat kelas tiga, salah seorang teman tidak sengaja melempar sesuatu dan mengenai daguku hingga berdarah, dan aku diam saja meski sakit kurasa.saat guru mengobati dan teman-teman yang lain melihat. Aku tak menangis saat nenekku pergi untuk selamanya meski aku sangat sedih kala itu. Aku tak tau harus melakukan apa saat seorang teman bercerita sambal menangis tentang masalahnya. Aku tak bisa seperti orang-orang yang dapat menunjukkan sedikit empati dengan memeluk dan ikut menagis saat temannya sedih. Maafkan aku teman J Tapi ternyata aku tak bisa menolak takdirku sebagai perempuan yang punya rasa. Beberapa kali aku pernah menangis di depan orang-orang.  Aku menangis saat seseorang yang sangat dekat dengaku pergi secara tiba-tiba. Tapi aku masih ingat prinsipku saat itu, sehingga aku masih bisa menguasai diriku. Namun dua bulan setelahnya aku menagis sejadi-jadinya di pusaranya, aku menumpahkan semua rasa yang selama ini kutahan. Aku lelah untuk berpura-pura kuat dan tegar. Kini kurasa itu normal saja untuk anak remaja yang baru mengenal cinta dan harus kehilangan dengan cara yang tak terduga. Beberapa tahun setelahnya, aku pernah menelepon seorang teman tengah malam sambil sedikit tersedu karena seorang pria yang aku pikir adalah segalanya meninggalkanku tanpa alasan. Saat itu kubiarkan diriku menangis tapi setelahnya aku tak akan menangis lagi karena dia memang tak pantas ditangisi. Setahun setelahnya aku juga pernah rasanya ingin menangis tapi tak bias karena seseorang yang dengan bodohnya kubiarkan meninggalkan luka. Aku juga bisa menangis karena membaca sebuah cerita sedih atau menonton film drama meski tentu tetap tak ingin dilihat orang. Itulah ajaibnya hati, meski kau berkata aku kuat dan tak boleh menangis, kadang sewaktu-waktu dia bisa berkhianat padamu. Tapi tak apa-apa, karena itu tandanya kau masih manusia.:)

Kamis, 01 Maret 2018

Travelling to Malaysia and Singapore part 3

Ini cerita hari kedua kita di Kuala Lumpur
Setelah tidur cukup nyenyak semalaman, keesokan harinya kita sudah full energy lagi buat keliling KL. Tujuan pertama kita ke Genting Highland, sebenarnya ini misi pribadiku karena orang-orang di rumah sudah pernah kesana semua dan mereka selalu membanggakan itu, so..aku ga mau kalah dong...hahha..*apalah ini..
Hari itu kita cuma sarapan beli karipap sama kue, gorengan plus air mineral seharga 5 RM di jalan depan hotel. Selanjutnya kita menuju tempat pembelian tiket Bus ke Genting Highland yang berada di dekat Shuttle Bas Perantara Batu Caves di lantai dasar KL Sentral. Kita beli tiket bus PP untuk 2 orang seharga 17.2 RM, jadi satu tiket pergi untuk ongkosnya sebesar 4.3 RM. Bus berangkat pukul 10.45. Setelah nunggu 30 menit lebih gitu akhirnya bus nya datang dan kita langsung berangkat menuju Genting Highland.
Tempat beli tiket dan nunggu bus ke Genting Highland

Perjalanan kesana memakan waktu lebih kurang 1 jam menyusuri jalan tol dan menuju kawasan perbukitan atau dataran tinggi. Sesampai di sana kita kita harus naik beberapa buah eskalator menuju counter tiket pembelian gondola atau cable car. Setiba di sana, ada dua cara pembelian tiket, bisa melalui petugas penjual atau memakai mesin pembelian tiket. Awalnya kita sudah antri untuk beli tiket di penjualnya, tak lama petugas di sana bilang kalo beli di mesin aja biar ga antri, ya udah akhirnya kita coba lah beli pake mesin itu, tiket standard gondola untuk single trip seharga 8 RM dan PP 16 RM, jadi kita beli 2 tiket PP dengan total 32 RM. Sebenarnya ada beberapa jenis gondola, ada standard gondola yang biasa, ada gondola yang lantainya kaca transparan yang harganya lebih mahal, dan ada yg express. Hari itu orang-orang yang datang lumayan ramai, mungkin karena hari Minggu. Setelah dapat tiket kita langsung antri menuju tempat naik gondola, jadi kalo kita datangnya rombongan kita bisa milih satu gondola, nanti sama petugasnya dibilang bisa muat berapa lagi disitu, karena kita cuma berdua ya udah naik yang mana aja bisa.
Tempat naik Gondola

Sebenarnya ini bukan pengalaman pertamaku naik cable car, dulu udah pernah naik yang mirip sama ini di TMII, tapi ya sekarang kan beda karena di bawahnya kita bisa lihat bukit-bukit nan hijau. Untungnya pada waktu kesana cuaca sedang bagus dan tidak berkabut, karena menurut pengalaman orang-orang yang sudah pernah kesana katanya kalo berkabut gitu jadi dinginnn banget, alhamdulillah kemaren cuaca lagi bersahabat dan tidak terlalu dingin.
Suasana dari atas Cable Car

Cable car ini akan berhenti di dua titik, yang pertama di Chin Swee Temple dan yang kedua di Sky Casino. Awalnya kita turun pas di Chin Swee Temple dan turun ke bawah untuk ngeliat gimana bentuk kuilnya.
Chin Swee Temple

Setelah puas foto-foto di depan kuilnya (kita ga masuk ke dalam kuilnya) kita langsung naik lagi ke atas dan nunggu cable car selanjutnya untuk ke Sky Casino. Setibanya di Sky Casino ternyata itu kayak Mall yang gedee banget, dan kebanyakan di sana Chinese, apalagi saat itu masih suasana Imlek jadi dekorasinya semua bernuansa Imlek.
Sky Casino

Setelah mutar-mutar ga jelas akhirnya kita memutuskan nyari Surau untuk shalat zuhur. Awalnya udah pesimis bakalan ga ada Surau disini, eh ternyata ada di lantai paling bawah. Pas sampe ke sana ternyata ga ada orang sama sekali dan sepi bangeet, rada-rada horor gituu sih,,,hiyyy...Akhirnya setelah shalat kita memutuskan untuk balik naik Cable Car. Kita naik bareng sama anak-anak muda chinese gitu, mereka pada heboh sendiri saat gondolanya jalan dan kita malah stay cool aja, haha. Sampai di dekat Shuttle Bus ternyata bus kita masih lama, kita beli tiket pulang jam 15.45, akhirnya kita memutuskan untuk nyari makan dulu, setelah jalan tak tentu arah akhirnya kita sampai d Genting Highland Premium Outlet dan menemukan semacam foodcourt gitu, pas udah pesen makan eh ternyata bayarnya harus pake kartu, jadilah kita harus beli kartu dulu seharga 29 RM, 5 RM untuk deposit dan 24 RM untuk saldonya. Untuk pengisian saldo ga ada batas minimumnya. Setelah makan dan nunggu sebentar akhirnya bus kita datang dan kita langsung menuju kembali ke KL Sentral.
Sampai di KL Sentral kita memutuskan untuk explore KL sekali lagi naik Bus GoKL. Kita naik red line dengan tujuan dataran merdeka, tapi sebelum sampai ke sanaa kita malah turun di halte masjid negara karena pengen liat masjidnya dulu. Masjidnya bagus dan adem serta kubahnya unik. Karena belum waktu shalat akhirnya kita cuma foto-foto aja dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju dataran merdeka. Tapi ternyata bus nya ga berhenti disitu dan akhirnya kita turun di halte menara DBKL. Dari situ kita jalan ke arah bangunan Sultan Abdul Samad, kebetulan hari itu kayaknya lagi ada kegiatan kayak bazar motor gede gitu jadi suasananya rame banget. Bangunan Sultan Abdul Samad ini di depan Dataran Merdeka dan berdekatan sama bangunan lain seperti Galeri Kuala Lumpur, Museum Textil, dsb. Karena sudah sore jadi semuanya udah pada tutup dan kita cuma foto-foto aja di depannya.
Bangunan Sultan Abdul Samad

Galeri Kuala Lumpur

Selanjutnya kita berjalan menuju Masjid Jamek melewati jembatan dari bangunan Sultan Abdul Samad, di sana kita beli air mineral seharga 1 RM (lebih murah dari di Sevel). Kita memutuskan untuk masuk ke dalam masjid sambil nunggu magrib dan ngecas hape.
Masjid Jamek

Tapi karna magribnya masih lama akhirnya kita memutuskan untuk naik LRT dari stasiun Masjid Jamek menuju KLCC karena pengen ngeliat KLCC di malam hari. Setelah duduk-duduk sebentar akhirnya kita kembali ke KL Sentral buat ngambil barang yang kita titipkan di hotel waktu pagi hari setelah check out.
KLCC di malam hari

Setelah makan malam di restoran nasi kandar dan jam sudah menunjukkan pukul 09 malam, akhirnya kita bergerak masuk ke KL Sentral buat naik KTM Komuter menuju TBS. Tapi ada sedikit drama disini, karena duit ringgit kita yg sudah menipis akhirnya Azza mau coba ambil duit di Maybank, tapi ternyata ga bisa setelah dicoba berkali-kali, nyari money changer udah pada tutup semua, sedangkan aku cuma punya duit 35 RM di tangan yang niatnya buat beli coklat   oleh-oleh. Akhirnya aku beli coklat yang harganya 14 RM aja biar masih ada sisa buat pegangan kita. Alhamdulillah ternyata sampai di TBS kita ga perlu ngeluarin duit lagi. Kita tiba TBS pukul 10.30 malam dan langsung ke Surau buat shalat Isya, jam 11 malam gate bus dibuka dan kita langsung masuk ke ruang tunggu. Sebelum naik kita ditanya sama supirnya punya permitt atau ga, awalnya aku ga ngeh ini sopir ngomong apa, akhirnya pas azza bilang kita holiday ke Singapura trus dikasih kayak kartu imigrasi yang harus diisi dan diserahkan nanti pas di imigrasi Singapura. Akhirnya kita naik dan berangkat menuju Singapura. Good Bye Kuala Lumpur, thanks for this two wonderful days, hopefully we can see you again later...
Oke teman untuk cerita di Singapura tunggu di part 4 ya...hehehe....

Travelling to Malaysia and Singapore Part 2


Hai teman, I hope you don’t feel bored with my story yaa…hehe. Jadi kita naik bus Super Coach dari terminal Larkin menuju terminal Bersepadu Selatan (TBS) Kuala Lumpur. Bus nya lumayan nyaman, bersih dan dingiiin dengan kursi 2 dan 1. Menurut orang-orang perjalanan dari Johor ke KL itu lebih kurang 6 jam, tapi ternyata kita jam 04.00 dini hari udah nyampe di TBS, jadi perjalanan ke sana hanya memakan waktu lebih kurang 4 jam. 
Bus Super Coach
Suasana dalam Bus


Sesampainya di TBS ternyata terminalnya emang keren banget, sesuai sama yang diceritain orang2 di blog, beda banget sama terminal-terminal yang sering aku liat di Jakarta..hehehe. Selanjutnya dengan mata masih sepet kita nyari mushalla yang kalo dalam bahasa Malaysia ditulis Surau. Ternyata suraunya buka jam 05 pagi, jadi kita duduk nunggu sampai suraunya dibuka. Saat surau dibuka ternyata sudah banyak orang-orang yang juga berniat tidur sambil menunggu waktu shubuh di sana. Fyi, waktu shubuh di Malaysia itu pukul 06 pagi. Setelah shalat shubuh kita langsung keluar dan menuju loket penjualan tiket untuk membeli tiket ke Singapura besok malam. Awalnya sempat ragu karena kita minim review tentang naik bus dari Malaysia ke Singapura, akhirnya memutuskan untuk nanya sama petugas penjual tiket, untung petugasnya sabar kita tanyain bus-bus apa saja yang ada sama harganya berapa. Akhirnya setelah pilah pilih, kita beli tiket bus ELTABINA jurusan TBS-Woodlands Singapura pukul 11.30 seharga 50 RM. Kita nekat aja langsung beli tanpa tau nanti dari Woodland ke hostel mau naik apa, ya sudahlah besok saja mikirin itu..hehhe.
Suasana dalam TBS

Selanjutnya kita nyari arah ke stasiun Bandar Tasik Selatan karena menurut cerita yang kita baca, terminal ini terintegrasi sama stasiun KTM Komuter. Setelah nyari2 petunjuk arah sampailah kita di stasiun Bandar tasik selatan yang berada di seberang TBS dan bisa dijangkau lewat jembatan penghubung antar terminal dan stasiun tersebut. Kemudian kita beli tiket KTM Komuter ke arah stasiun KL Sentral seharga 2.4 RM. Tiket KTM Komuter ini kayak koin gitu yang bisa ditempel dan nanti dimasukkan lagi ke dalam lubang koin pas sudah sampai. KTM Komuter ini mirip-mirip sama KRL Jabodetabek tapi lebih luas dan bersih, tempat duduknya ada yang hadap2an kayak KRL dan ada juga yang searah kayak kereta api jarak jauh. Dari TBS ke KL Sentral tidak terlalu jauh, hanya melewati 4 stasiun, kita sengaja milih hotel di sekitar KL Sentral agar mudah untuk akses kemana saja.
Sesampainya di KL Sentral kita langsung nyari2 pintu ke luar dan ternyata stasiun ini tuh gede banget *ya iyalah kan namanya juga sentral mut..hahha dan bergabung sama Mall NU Sentral. Akhirnya setelah nyari di google maps dan nanya sama security kita menemukan Jalan Tun Sambathan tempat dimana hotel kita berada. Selanjutnya sambil search di google maps mulailah kita nyari hotel itu, namanya Hotel Westree. Oia, keputusan untuk menentukan dimana mau menginap ini juga melewati diskusi panjang sampai tengah malam via Wa dengan Azza, akhirnya setelah mengingat, menimbang dan memutuskan akhirnya jatuhlah pilihan pada hotel ini. Menurut ketentuan hotel sebenarnya check in itu baru bias pukul 14.00, tapi karena kita sampai di sana pukul 07 pagi akhirnya kita berharap bias early check in. Alhamdulillah, ternyata petugasnya baik dan mengizinkan kita early check in tanpa biaya tambahan. Kamar kita berada di lantai 3 dan lumayan kecil. Tapi biaya segitu udah lumayan banget (1 malam=Rp.290.000), di dalam kamar ada double bed, TV, Air mineral, pemanas air, serta Toiletteries. Tanpa menunggu lama kita langsung mandi dan siap-siap untuk explore Kuala Lumpur.

Petualangan kita di KL dimulai pukul 09.00 pagi, sebelumnya kita memutuskan untuk brunch dulu di salah satu kafe dekat hotel namanya ABC Bistro CafĂ©, kita pesan Nasi Lemak Ayam Kampung dan Teh tarik  2 porsi seharga 24 RM. Ternyata ayamnya itu warnanya merah banget dan bikin agak gimana gitu makannya, mungkin karena belum terbiasa ya. 

Selanjutnya kita menuju KL Sentral dan memutuskan untuk pergi ke Batu Caves, tetapi sebelumnya kita beli kartu Touch and Go seharga 15 RM dulu karena katanya lebih hemat kalo pake kartu ini untuk naik transportasi umum. Kartu ini berisi saldo sebesar 9 RM dan deposit 6 RM, tapi deposit ini tidak bias diambil lagi nanti. Selanjutnya kita nyari stasiun untuk naik KTM Komuter kea rah Batu Caves, karena katanya tinggal naik kereta 1 kali udah sampai di sana. Eh ternyata sekarang ada perubahan jalur, dimana kita harus naik Bas (Bus) Perantara  dulu dari KL Sentral menuju Stasiun Sentul. Dari Stasiun Sentul baru naik Komuter menuju stasiun Batu Caves. Sesampai di batu caves, kita langsung foto-foto dan naik tangga yang kalo ga salah berjumlah 386 anak tangga, awalnya Azza ga mau tapi setelah dipaksa sedikit akhirnya mau..hehhe..*peace za…jadi Batu caves itu adalah tempat ibadah umat Hindu, ada patung dan Goa serta ada lubang cahaya di dalamnya. 
Batu caves

Setelah istirahat sejenak akhirnya kita memilih balik untuk mengejar Komuter jam 13.40. Sesampai di stasiun ternyata kartu Touch n Go Azza tidak bias dipake karena katanya Unvalid gitu trus disuruh bayar 2 RM, kayaknya lagi ada kesalahan yg menyebabkan kartunya tidak dideteksi. Akhirnya kita bias masuk ke stasiun dan alhamdulilah komuternya belum jalan. Selanjutnya kita balik menuju KL Sentral dan mencari cara untuk KLCC, katanya belum sah ke Malaysia kalo belum kesana. Dari KL Sentral kita naik LRT Laluan Kelana Jaya menuju KLCC. Ada beberapa jenis transportasi umum di Malaysia yang awalnya bikin bingung tapi akhirnya cukup dimengerti, hehe.,LRT ini umumnya berada di bawah tanah dan kursinya mirip-mirip sama kursi Transjakarta tapi berbasis rel. keluar dari stasiun LRT kita harus naik escalator menuju pintu keluar di atas. Karena ga tau dimana arah KLCC ini, akhirnya kita ikutin jalan menuju Mall Suria KLCC yang ternyata jauh banget pintu keluarnya, padahal sebenarnya ada pintu keluar yang deket dari stasiun menuju Jalan Ampang yang langsung berada di depan KLCC, dasar ga tau dan ga nanya akhirnya kita harus jalan jauh keluar darri mall..haha. Finally, we can see the phenomenal petronas twin tower itu. Tapi ternyata ga mudah ngambil foto yang kelihatan semua menaranya. Sebenarnya ada banyak yang menawarkan kamera fish eye di sana, tapi karena budjet kita ga ada buat itu ya udah pake kamera hp alakadarnya aja. Gapapa lah ya, yang tertangkap oleh mata sudah melebih apa yang ada dalam foto, ceileee… 

selanjutnya hari sudah mulai sore dan kita memutuskan mencari bus GoKL yang katanya gratis itu. Bus GoKL ini terdiri dari beberapa jalur, ada red line, blue line, purple line, dan green line. Setiap jalur punya spesifik tertentu, seperti purple line yang melewati daerah wisata seperti Pasar Seni, Petaling Street, Muzium Negara, dsb. 
Jalur Bus GoKL

Dari KLCC kita naik bus GoKL green line menuju Bukit Bintang. Turun sebentar di sana trus ambil beberapa foto kita melanjutkan perjalanan menuju Pasar Seni. Dari sana kita mencoba berbagai jenis jalur bus GoKL sampai menuju KL Sentral lagi. KL sentral ini berada di jalaur red line dan kita harus nyari halte yang dilewati oleh GoKL Interchange gitu. Pokoknya kita nyoba-nyoba aja yang penting harus lihai membaca dan bertanya..hhaha. Oia satu hal yang harus diingat, di dalam bus ini ga ada pemberitahuan halte pemberhentian selanjutnya, jadi ya kalo mau turun dimana harus lihat apa nama daerah itu karena terkadang di halte nya juga ga ada tulisan, jangan sampai kelewat kayak kita kemaren mau ke halte medan mara tapi karena ga ada tulisannya kita ga turun, setelah kelewatan baru terlihat ada tulisan medan mara di depannya, hadeeuh..Pukul 19.30 malam kita sampai di KL Sentral lagi, akan tetapi sebenarnya itu masih sore dan cukup terang ya teman. Selanjutnya kita makan malam di Restoran Nasi Kandar sebelum menuju Hotel. Aku pesan martabak dan Azza pesan Kwetiau serta dua gelas jus mangga dan jus buah naga. Eh ternyata yang disajikan bukan jus tapi kayak sirup diblend gitu…hedeehh..trus dalam bayanganku martabak itu kayak martabak mesir di kampong, eh ternyata martabaknya pake kuah kari kayak di India gitu,,heemm..thats not suitable with my tounge..hahaha. 
Martabak dengan kuah Kari


Setelah itu kita balik ke Hotel buat istirahat karena udah capek dan ngantuk banget. Alhamdulillah hari pertama di KL berjalan lancar, tunggu hari kedua di Part 3 ya…J

Rabu, 28 Februari 2018

Travelling to Malaysia and Singapore Part 1

Halooo selamat pagi teman...akhirnya setelah sekian tahun dipenuhi jaring laba-laba blog ini aktif lagi..hehe...Tulisan ini muncul akibat request dan pertanyaan dari beberapa orang teman tentang bagaimana perjalanan dan biaya selama kita melakukan perjalanan menuju negeri tetangga, Malaysia dan Singapura.
Oke, lets begin, sebenarnya niat buat pergi ke luar negeri ini sudah lama, mengingat udah bikin pasport dari beberapa tahun yang lalu tapi sampai sekarang belum pernah ke luar negeri, masa' nanti pas perpanjangan pasport belum ada cap sama sekali, kan ga lucu pas ditanya orang imigrasi kenapa bikin pasport kalo ga pernah ke luar negeri...wkwkw...Nah, jadi hal yang juga dialami oleh salah seorang sahabatku si Azza, maka tercetuslah ide buat jalan-jalan ke luar negeri ini pada penghujung tahun 2017 lalu, awalnya rencanananya pas kita sama-sama libur semester, eh tapi libur kita malah beda, Azza udah libur sedangkan aku belum, aku libur Azza udah masuk lagi, akhirnya disepakati lah kita tetap pergi pada bulan Februari pas weekend biar Azza tetap bisa masuk. Setelah menimbang banyak hal dan memutuskan tentang waktu keberangkatan, aku langsung pesan tiket menuju Tanjung Pinang, kota dimana Azza berada karena rencananya kita mau ke Malaysia dan Singapura via darat dan laut dengan rute Tj.Pinang-Johor Bahru-Kuala Lumpur-Singapura-Batam. Tiket pesawat ke Tanjung Pinang cukup standar seharga Rp. 498.000. Aku berangkat ke Tanjung Pinang pada hari Kamis. 22 Februari 2018 dari Bandara Soekarno Hatta pukul 08.25 dan tiba di Tj. Pinang pukul 10.00 WIB. Aku sudah dua kali ke kota ini, tapi baru kali ini lewat udara, sesampainya di sana terlihat bandaranya cukup bagus walaupun masih kecil dan lumayan sepi, aku nunggu dijemput Azza sambil main hape dan lihat sana sini.
Bandara Raja Haji Fisabillilah Tj. Pinang
Tak lama berselang si Azza datang dan kita langsung menuju  kontrakan Azza, setelah meletakkan tas, kita langsung cari makan dan jalan-jalan di sekitar Tj. Pinang. Kemudian pergi beli tiket Kapal Ferry dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tj. Pinang menuju Pelabuhan Stulang Laut Johor Bahru Malaysia. Kita beli tiket di salah satu agen yang ada di sekitar pelabuhan seharga Rp.300.000 dengan menggunakan kapal Indomas. Kita memilih waktu keberangkatan paling sore pada hari Jumat, 23 Februari 2018 pukul 15.00 WIB. Setelah itu kita nukerin uang di Money Changer yang ada di sekitar sana, dimana harga beli 1 RM = Rp. 3.480, jadilah kita nukerin uang berdua Rp. 1.500.000 didapat uang ringgit sebanyak 431 RM, kemudian kita nukerin uang dolar singapura dimana 1 dolar = Rp. 10.300 kita nukerin uang seberas Rp.2000.000 dan didapat uang dolar sebanyak 194 dolar singapura. Inilah bekal kita selama perjalanan menuju dua negara tetangga tersebut.

Tiket kapal Ferry dari Tj.Pinang ke Johor Bahru
Setelah itu aku diajak Azza dan temannya untuk jalan-jalan ke icon Kota Tj. Pinang yaitu siput Gong-Gong. Setelah puas foto-foto dan makan di salah satu Kafe yang ada di sana kita balik ke kontrakan dan istirahat sebentar sambil cerita-cerita tentang kegalauan kita di masa-masa ini. Ah sudahlah,,setiap orang punya jalannya masing-masing dan mari kita bersenang-senang dulu...hahaha

Siput Gong-Gong as the icon of Tj.Pinang

Keesokan harinya, aku sendirian menunggu Azza pulang mengajar pukul 12.00, setelah itu shalat dan makan siang kita menuju pelabuhan pukul 13.00. Sesampai di pelabuhan terlihat sedang ada pekerjaan perbaikan di beberapa tempat, secara keseluruhan pelabuhan ini sudah berubah dari terakhir kali aku ke sana pada 2014, ya iyalah kan sekarang udah 2018 neng...hahha..


Pelabuhan Sri Bintan Pura

Setiba di pelabuhan kita nyari tempat masuk untuk keberangkatan internasional, setelah celingak celinguk dan nunggu beberapa lama kita masuk ke ruang tunggu di pelabuhan, oh iya sebelumnya kita harus bayar pas pelabuhan atau tax pelabuhan dulu sebesar Rp. 35.000. Setelah menunggu selama satu jam kurang akhirnya kita dipanggil ke bagian imigrasi sebelum naik kapal, di sini kita ditanya mau kemana dan berapa lama, nah karena logat bahasaku bukan logat melayu jadilah bapaknya nanya macam-macam dengan tatapan curiga gitu,,hadeuuh pak, saya cuma numpang transit aja kok disini..-_- Akhirnya kita naik ke kapal dan nyari tempat duduk, jadi kalo naik kapal ferry gini ga ada nomor seat nya jadi bebas mau duduk dimana aja.


Kapal Indomas


Suasana di dalam kapal Ferry

Perjalanan Tj.Pinang ke Stulang Laut memakan waktu lebih kurang 3 jam, waktu masih di perairan sekitar Tj.Pinang dan Batam ombaknya masih kecil tapi ketika udah lewat dari sana dan masuk perairan luas eh ombaknya malah besar dan bikin kita agak pusing. Ketika udah lebih dari 1 jam perjalanan sinyal kartu kita mulai roaming, ini artinya kita udah keluar dari Indonesia..ahahaa...Good Bye Indonesia...
Kita sampai di Pelabuhan Stulang Laut pukul 19.00 waktu malaysia (fyi, waktu malaysia lebih cepat 1 jam dr indonesia), sesampai di sana kita langsung menuju imigrasi, kita ditanya mau kemana dan berapa lama, langsung dijawab mau ke Kuala Lumpur selama 2 hari, tanpa nunggu waktu langsung distempel, kemudian sambil nunggu Azza di imigrasi aku iseng mau foto, eh malah dimarahin sama petugasnya, aku baru ingat kalo di sana ga boleh ada kamera, maaf pak, sy ga tauu...:( lalu kita langsung berjalan ke luar, ternyata pelabuhan ini terintegrasi sama mall, sebelum ke luar kita beli kartu sim malaysia dulu untuk memudahkan dalam membuka internet dan mencari informasi nantinya, maklumlah kita kan kids jaman now yg ga bisa hidup tanpa internet..hahha...Kita beli kartu sim seharga 20 RM dengan kuota 1,5 GB selama seminggu.

Gerbang kedatangan di Pelabuhan Stulang Laut

Selanjutnya kita terus berjalan ke luar dan mencari informasi tentang cara menuju Terminal Larkin. Berdasarkan blog yang sudah kita baca ada dua cara menuju Terminal Larkin, pertama dengan menggunakan taksi berwarna merah atau bisa dengan menggunakan bus tapi dua kali ganti bus. Awalnya biar terasa sensasi backpackernya kita memutuskan mau naik bus aja, eh tapi pas dicari-cari bus nya ga ketemu dan saat nanya sama orang malah orangnya bilang ga ada bus dan disuruh naik taksi aja dengan nada kayak orang marah gitu..hadeeuhh...ya sudahlah daripada lama dan takut ga kebagian tiket bus untuk ke Kuala Lumpur akhirnya kita naik taksi. Setelah tawar menawar akhirnya didapat ongkos taksi ke sana sebesar 15 RM, pas masuk ke dalam taksi bapak itu bawa istri dan anaknya di depan, dan kebetulan lagi ternyata istrinya orang Padang, wah dunia ini sempit sekalii...Perjalanan dari Stulang Laut ke Larkin hanya memakan waktu lebih kurang 20 menit. Sesampai di Terminal Larkin kita langsung menuju ke loket pembelian tiket, awalnya kita masih ragu mau pilih bus yang mana, dari blog-blog yang sudah kita baca ada dua jenis bus yang sering dinaikin sama orang yaitu bus Transnasional dan Super Coach. Akhirnya kita beli tiket bus Super Coach seharga 35 RM pukul 11.59 (last bus). Sambil nunggu kita nyari makan dulu, setelah milih-milih akhirnya kita beli nasi goreng kampung seharga 6 RM dan air mineral seharga 1.30 RM. Setelah kenyang kita memutuskan untuk shalat dulu dan nyari masjid yg ternyata ada di lantai 2, terminal ini juga terintegrasi dengan pasar, tapi karena sudah malam sudah banyak toko yang tutup. Masjidnya cukup luas, bersih dan nyaman, setelah shalat kita duduk-duduk dulu dan aku masih sempat ngisi borang Penelitian di lemlitbang yang batas akhirnya hari itu..haha
Suasana di dalam Masjid di terminal Larkin

Nasi Goreng Kampung

Pukul 11.30 gate menuju bus nya dibuka, dan kita langsung masuk ke dalamnya, Oia jika kita beli tiket di tempat agen maka kita harus nukerin tiket dengan semacam boarding pass gitu, tapi kalo beli langsung menggunakan mesin maka tidak harus ditukerin.

Tiket dan Boarding Pass
Nah, saat mau masuk ke gate ada sedikit drama nih, ternyata tiket kita ga dideteksi sama sistem karena jam yang tertulis pukul 00.01 tanggal 23 Februari 2018 itu artinya tiketnya sudah lewat dong, seharusnya kalo tanggal 00.01 itu sudah tanggal 24 Februari, akhirna sama kakak-kakak petugas disana diurusin lagi dan tak lama setelah menunggu kita bisa masuk dan mencari bus Super Coach di Gate 29. Alhamdulillah akhirnya kita langsung masuk bus dan mencari tempat duduk. Okee...Kuala Lumpur, wee are coming...
Bersambung ke Part 2 ya...^_^